Oleh: Sungging Indah Jati JEPARA | Januari 5, 2011

SEKILAS KOTA JEPARA

Jepara Bumi Kartini adalah Kota kecil Di Pesisir Utara Pulau Jawa Yang Sangat INdah Dengan Panorama Wisata Baharinya,Dimana ada 2 wisata Bahari Yang Sangat Indah Dan Mengesankan Yaitu Pantai KARTINI Dan Pantai BANDENGAN.
Pantai Kartini Terletak 1 Km dari Pusat Kota JEPARA,Kita Dapat Menikmati Indah Pantai Dengan Hamparan Bebatuan laut Yang Memukau,Disana Kita Juga Dapat Menyaksikan Aquarium Kura-Kura Raksasa,Long Island Yang Sangat indah Dan Masih Begitu Alami.
Pantai Bandengan Jepara Terletak 5 Km Dari Pusat Kota Jepara,Dengan keindahan Pantai Pasir Putihnya Dan Airnya Yang Jernih Kita Dapat Menikmati Wisata Mandi Laut Bersama keluarga.
Jepara Juga Terkenal Dengan Seni Ukir Dan Mebel Yang Sudah Terkenal Sampai Kemancanegara,Hampir 60% Masyarakat Jepara Berkecimpung Dalam Pekerjaan Ini. Jepara: Industri Seni Kerajinan Ukir
Jepara dalam Pasang dan Surut

Jepara memiliki dinamika kehidupan perajin mebel ukir tercermin melalui besarnya semangat dan optimisme dalam menekuni bidang profesinya. Mereka berusaha dan berkarya dengan penuh keyakinan, bahwa usaha tersebut dapat memberikan manfaat positif bagi hidupnya. Hal itu memancing berbagai pihak untuk turut memikirkan kelangsungan dan perkembangannya sehingga menjadi usaha yang besar dan kuat.
Berkenaan dengan strategi pengembangan industri mebel ukir, ketika itu Pemda Tingkat II Kabupaten Jepara telah berusaha keras untuk memperbaiki berbagai sarana dan prasarana pendukung di wilayah tersebut. Upaya itu antara lain peningkatan saran dan prasarana produksi, transportasi, telekomunikasi, pemasaran, dan permodalan. Jalan tembus Jepara Semarang telah dibangun guna memperlancar transportasi dan distribusi. Muncullah agen-agen di bidang jasa yang menyediakan armada angkutan sehingga memperlancar tersalurnya hasil produksi.
Pada tahun 1997, industri mebel ukir Jepara telah jauh berkembang meninggalkan industri lain di kawasan itu. Kegiatannya mencakup sembilan dari dua belas kecamatan di Jepara yang telah berkembang menjadi kawasan Industri mebel ukir berskala besar. Sudah tentu banyak tenaga kerja yang terserap di sentra industri tersebut. Tampaknya, tradisi dagang dan buruh industri yang pernah berkembang ratus tahun yang lampau diwaris oleh komunitas perajin mebel ukir yang hidup di Jepara pada saat itu. Mereka menunjukkan kepiawaian dan ketangkasannya di bidang industri mebel ukir, yang bersedia bekerja keras untuk menghasilkan karya seni bermutu tinggi sehingga merebut minat pembeli dan pasar seni internasional. Prestasi itu memicu perkembangan mebel ukir Jepara sebagai media penerusan tradisi seni yang berlangsung secara berkesinambungan.
Kehidupan masyarakat Jepara dapat dikatakan unik, karakteristik dan dinamis. Mereka tidak hanya terdiri dari masyarakat petani yang menggarap sawah ladangnya dengan penuh kesungguhan atau sebagai nelayan yang melakukan profesinya dengan penuh gairah, tetapi juga perajin dan pengusaha yang memiliki dedikasi tinggi terhadap profesi mebel ukir. Latar belakang kehidupan mereka yang unik dan karakteristik yang dinamis itu menjadi modal dasar bagi suksesnya kegiatan industri yang dilakukan.
Masyarakat Jepara yang demikian itu tentu dapat menjadi salah satu model terpeliharanya semangat, etos dan disiplin kerja yang tinggi, dilambari pemahaman serius terhadap nilai-nilai agama yang dianut. Dengan demikian, mereka berhasil mencapai sukses dan mendapatkan imbalan jasa yang memuaskan, terlihat melalui kondisi sosial ekonomi mereka dan mobilitas penduduk yang sangat tinggi. Kesediaan mereka membantu usaha di bidang sosial, antra lain melaksanakan pembangunan masjid secara swadaya yang menghabiskan dana lebih dari dua ratus juta rupiah, adalah cermin tingkat kemakmuran mereka.
Para perajin yunior umumnya mendapatkan keterampilan dari perajin senior. Dalam mengawali usahanya, umumnya mereka merantau ke kota besar dan kecil di Indonesia, bahkan sampak ke luar negeri. Merantau adalah hal biasa bagi banyak orang Indonesia. Masyarakat yang suka merantau antara lain orang Bugis dengan tradisi melaut, orang Minang dan Aceh dengan berdagang, orang Sunda dengan tradisi menjadi pedagang keliling, orang Banjar dengan tradisi sebagai kemasan, dan orang Jawa banyak merantau menjadi pegawai dan buruh.
Meskipun terdapat banyak tradisi merantau, namun merantau bagi perajin Jepara mempunyai keunikan tersendiri. Bagi mereka, mereantu merupakan bagian dari proses belajar untuk menimba pengalaman sebagai bekal meniti karir yang lebih maju. Oleh karena itu tidak mengherankan jika di kota besar maupun kecil di Indonesia dapat dijumpai sekelompok orang Jepara yang melakukan kegiatan di bidang industri mebel ukir. Mereka umumnya bekerja dengan giat dan bergairah. Melalui praktek kerja menjadi tukang di perusahaan itu, mereka memperoleh berbagai pengetahuan, baik menyangkut manajemen pengelolaan usaha, proses dan sistem produksi, efisiensi pemanfaatan bahan dan cara-cara menjalin relasi dan pemasaran, termasuk cara menyediakan modal usaha. Sistem belajar seperti itu dianggap lebih efisien, hemat, dan praktis untuk memperoleh bekal membangun usaha mandiri.
Cara pembekalan secara otodidak itu memang dapat dipandang kurang tepat oleh kaum akademisi, apalagi dalam memasuki era global. Mestinya, pembekalan untuk generasi era global perlu disertai program pendidikan dan pelatihan yang mantap dan terstruktur dengan baik, karena mereka akan berhadapan dengan berbagai tantangan dan hambatan. Tetapi, tradisi pemilikan pengetahuan mengelola usaha dengan jalan merantau ketika itu merupakan alternatif jalan pendek yang terpilih bagi masyarakat perajin.
Disadari, bahwa pemilikan ilmu pengetahuan tanpa praktek tentu tidak akan memberikan banyak arti pada usaha yang dirintis, karena dalam kenyataan di lapangan mereka langsung dihadapkan pada berbagai permasalahan. Kesulitan dan hambatan sering timbul dari hal-hal kecil yang sering diabaikan, antara lain pemanfaatan bahan baku dan bantu secara efektif dan efisien. Seperti diketahui, bahan kayu dibeli dengan harga mahal, sehingga setiap potong kayu harus diperhitungkan dengan baik, termasuk bahan sisa yang harus dihitung secara matang agar seluruh material dapat kebali menjadi uang.
Sampai tahun 1997, pengusaha mebel ukir Jepara, baik kecil, menengah maupun besar, umumnya berlatar belakang pendidikan rendah dan menengah. Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh data bahwa dari 75 responden penghusaha mebel ukir Jepara yang dihubugi terdapat 54 orang berpendidikan SD (termasuk tidak tamat), 12 orang berpendidikan SLTP, 6 orang berpendidikan SLTA, dan 3 orang berpendidikan tinggi. Wawasan yang kurang luas dan kondisi ekonomi yang terbatas menjadi kendala tersendiri untuk mengikuti jenjang pendidikan formal yang lebih tinggi. Kondisi itu menyadarkan diri mereka akan arti pentingnya belajar dan berlatih bekerja sejak kecil. Mereka belajar, berlatih dan bekerja atas keinginan dan cita-citanya sendiri, anak-anak belajar dan bekerja kepada perajin senior yang lazim disebut ngenek. Selama nyantrik, mereka sudah mendapat imbalan jasa sekadarnya seabagi perangsang agar mereka mau belajar dengan giat dan tekun sebagai bekal hidup di kemudian hari. Apabila keterampilan bertukang dan mengukir telah dikuasai dengan baik, dengan penuh percaya diri mereka mulai merantau untuk menimba pengetahuan di lingkungan yang lebih luas, terbuka, penuh tantangan.
Kesempatan merantau itu juga berfungsi sebagai pendadaran kemampuan dan keterampilan yang telah dipelajari, sekaligus merupakan tahap belajar menjalin relasi. Disadari bahwa menjalin relasi itu tidak mudah, sebab itu perantauan mereka sering berpindah tempat dari perusahaan yang satu ke perusahaan yang lain, dari daerah yang satu ke derah lainnya lagi. Meskipun sekilas tidak tampak bahwa mereka sedang belajar sesuatu, tetapi dengan penuh perhatian, mereka menyimak sesuatu dan mencatat dalam hati atas berbagai peristiwa yang dialami selama bekerja di suatu perusahaan. Itulah keunikan perajin pelaksana mebel ukir Jepara dalam meniti karier masa depan yang lebih cerah.
Meskipun telah nyata bahwa pendidikan non formal menunjukkan kemanfaatan yang signifikan dan tampaknya masih perlu dilaksanakan, namun bersamaan dengan itu perlu dipersiapkan perajin intelektual yang berlatar belakang pendidikan tinggi. Hal itu berkaitan dengan perkembangan industri mebel ukir yang prospektif, sehingga kelemahan dan tantangan yang timbul dapat diantisipasi dengan baik di antaranya meningkatkan pemahaman perajin seputar sertifikasi kayu, mencakup sistem pengawasan hutan, penelusuran asal usul kayu, dan pemberian label pada produk industrinya. Mereka perlu memahami mengapa terjadi merger dan akuisisi yang erat kaitannnya dengan tujuan untuk memperluas jaringan bisnis sehingga diadakan konsultasi dan rasionalisasi dengan cara melepas kepentingan perusahaan yang kurang menguntungkan.
Sekolah Menengah Industri Kerajinan (sekarang SMK) adalah salah satu lembaga pendidikan formal yang menyiapkan perjin terdidik dan terlatih di Jepara. Di sekolah ini peserta didik dilatih secara khusus, untuk menjadi tenaga terampil didukung pengetahuan seni rupa yang memadahi. Selain itu juga terdapat Akademi Teknologi Industri Kayu, sekarang STTDNU (Sekolah TInggi Teknologi Desain Kayu) , yang sekarang telah berkembang menjadi salah satu fakultas dari universitas di Jepara. Sebagai kelanjutan dari pendidikan di sekolah tingkat menengah atas itu peserta didik dapat melanjutkan ke ISI Yogyakarta atu perguruan tinggi seni lainnya untuk meraih derajat pendidikan tinggi. Meskipun dimikian terbertik berita bahwa selepas sekolah di SMK Jepara telah tersedia lapangan kerja di Malaysia yang memberikan imbalan jasa sangat menggiurkan. Tampaknya hal in merupakan persoalan tersendiri, karena pada saatnya mebel ukir yang semula menjadi andalan pemerintah Jepara justru terdapat kemungkinan beralih ke Malaysia.
Eksistensi pendidikan telah nyata mempercepat proses penyebaran dan kompetensi pengetahuan dan keterampilan dilandasi sikap dan perilaku yang berubah. Lembaga-lembaga mempunyai peran dan fungsi strategis dalam pembangunan seni budaya bangsa. Perubahan demi perubahan yang terjadi dalam perjalanan panjang seni kerajinan mebel ukir Jepara seiring dengan kemajuan yang dicapai oelh bangsa Indonesia. Abad ke 21 adalah abad persaingan global di segala bidang yang makin seru yang menuntut keunggulan komparatif. Sinyalemen tentang ditolaknya beberapa produk yang diekspor ke luar negeri merupakan sinyal penting untuk dicermati, yang tidak mustahil bisa merambah ke berbagai sektor industri buatan tangan yang mencemaskan.
Berbagai peristiwa yang menantang telah terjadi akhir-akhir ini, hal yang tentu memerlukan kesadaran bersama untuk selalu menigkatkan kewaspadaan, meningkatkan kepedulian pada segala sesuatu yang pernah dimiliki, dan akan tetap dimiliki demi kemaslahatan masyarakat dan bangsa. Sebagai penutup saya ucapkan terima kasih atas kesempatan dan perhatiannya, dengan harapan semoga uraian singkat ini bermanfaat.
Agenda Pengelolaan BATAN BKPM Bulan Kunjungan Jepara CPNS CPNS 2008 CPNS Jawa Tengah CPNS Jawa Tengah 2008 CPNS Jepara CPNS Jepara 2008 Departemen Kehutanan Dinas Indagkop Jepara Dinas Perindagkop Jepara diskon Diskon furniture diskon mebel Ekspor Furniture Ekspor Furniture Indonesia Ekspor Mebel Ekspor Mebel Indonesia Furniture Gebyar Troso Jepara Jepara Craft Jepara Furniture Jepara Trade and Tourism Center JTTC Kampung Teknologi Jepara LIPI MEBEL Mebel Jepara Mebel Murah PAMERAN TRADE EKSPO INDONESIA


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: